jika mau pergi, pergilah.
yang jauh, yang lama.
aku tak akan menahan, meski tetap bertahan.
toh, yg ingin pergi juga tetap akan pergi.
percumah aku menahan.
dan jika ingin kembali, kembalilah
namun, setelah aku berhasil melupakan.
atau paling tidak sebelum kamu pergi, berilah aku pilihan.
bertahan atau melupakan.
agar aku tak di patahkan oleh harapan yg aku bangun sendiri.
jujur saja, aku sangat rapuh perihal menunggu.
.
sebelumnya, kukira pergimu hanya untuk sebentar. perlahan ku coba menguatkan diri dengan sabar. sebelum akhirnya aku tersadar, bahwa itu hanya pikiranku yg ingkar.
.
3 bulan berlalu setelah kepergianmu. waktu yg sangat tidak mungkin untuk aku melupakanmu. justru malah sebaliknya, aku di serang sendu karena rindu.
ku pikir, ada suatu sistem kinerja takdir yg salah atau rusak. mendadak beranda dadaku sesak.
ku kira, kita sama-sama saling menolak. ternyata hanya kamu yg menolak. sementara aku, sejak awal sudah kalah telak.
semua terasa sulit. mencoba berkisah dengan dia yg tak berkasih. tak ada cerita. tak ada kita. dan kini, hanya aku sendiri. di tinggal pergi. mencoba berdamai dengan hati tanpa balasan dari dia yg pergi tak kembali, lagi.
.
aku tau! berjuang sendiri itu tidak baik. seringkali aku di butakan oleh harapanku sendiri. hingga akhirnya kecewa karena semua tak sejalan dengan yg aku pikir.
namun jauh dari itu, aku tak bisa melawan hatiku. hatiku yg terus tertuju padamu.
aku harus bagaimana? melawannya hanya membuat sesak di beranda dada.
.
aku seperti terjebak oleh suatu rasa dalam hati. bodohnya aku, seperti menggenggam bara api yg aku bakar sendiri. terluka jika di lepaskan. teramat sakit jika di pertahankan. tak secepat itu padam. tak secepat itu sembuh.
yang jauh, yang lama.
aku tak akan menahan, meski tetap bertahan.
toh, yg ingin pergi juga tetap akan pergi.
percumah aku menahan.
dan jika ingin kembali, kembalilah
namun, setelah aku berhasil melupakan.
atau paling tidak sebelum kamu pergi, berilah aku pilihan.
bertahan atau melupakan.
agar aku tak di patahkan oleh harapan yg aku bangun sendiri.
jujur saja, aku sangat rapuh perihal menunggu.
.
sebelumnya, kukira pergimu hanya untuk sebentar. perlahan ku coba menguatkan diri dengan sabar. sebelum akhirnya aku tersadar, bahwa itu hanya pikiranku yg ingkar.
.
3 bulan berlalu setelah kepergianmu. waktu yg sangat tidak mungkin untuk aku melupakanmu. justru malah sebaliknya, aku di serang sendu karena rindu.
ku pikir, ada suatu sistem kinerja takdir yg salah atau rusak. mendadak beranda dadaku sesak.
ku kira, kita sama-sama saling menolak. ternyata hanya kamu yg menolak. sementara aku, sejak awal sudah kalah telak.
semua terasa sulit. mencoba berkisah dengan dia yg tak berkasih. tak ada cerita. tak ada kita. dan kini, hanya aku sendiri. di tinggal pergi. mencoba berdamai dengan hati tanpa balasan dari dia yg pergi tak kembali, lagi.
.
aku tau! berjuang sendiri itu tidak baik. seringkali aku di butakan oleh harapanku sendiri. hingga akhirnya kecewa karena semua tak sejalan dengan yg aku pikir.
namun jauh dari itu, aku tak bisa melawan hatiku. hatiku yg terus tertuju padamu.
aku harus bagaimana? melawannya hanya membuat sesak di beranda dada.
.
aku seperti terjebak oleh suatu rasa dalam hati. bodohnya aku, seperti menggenggam bara api yg aku bakar sendiri. terluka jika di lepaskan. teramat sakit jika di pertahankan. tak secepat itu padam. tak secepat itu sembuh.
Preeeettt
BalasHapusprooott...
Hapus