pernahkah kau jatuh dari sepeda??
atau tersandung batu ketika mengejar layang-layang yg putus tanpa puan??
goresan merah yg menempel pada lutut, atau bercak perih yg terasa di siku dan telapak tangan.
sesekali kena marah dari ibu, sembari memberi komponen-komponen penyembuh. bilasan air, plester,obat merah, kapas dan perban. sangat mujarab menghilangkan luka dalam hitungan hari.
dan kali ini, aku ingin menceritakan sakitku, boleh?
andaikata tidak boleh pun, aku akan tetap menceritakannya.
sakit ku kali ini agak berbeda. memang berawal dari jatuh, namun bukan dari sepeda atau tersungkur karena mengejar layang-layang.
kali ini jatuh yg setinggi langit, jatuh yg sedalam samudra. sakit yg tak berdarah, namun teramat menyiksa.
tak bisa di sembuhkan dengan plester, kompresan es ataupun obat merah. karena kali ini hati ikut andil dan rasa sebagai peran utama.
berawal dari bibit-bibit kepercayaan pernah aku tanam.
kau terus saja berikan pupuk janji, serta di siram dengan air manis. subur sekali kepercayaanku. tumbuh begitu cepat, tak terbayang akan tertamat.
hingga suatu saat, kau begitu keras mematahkannya. merobohkan dengan cepat, dan menyadari kesalahan dengan sangat terlambat.
aku kira aku hanya bermimpi. kala pagi ku dapati riwayat pesan singkat, isinya memang menyayat. jatuh lah aku di kenyataan. mendadak pernafasanku sesak. tak sanggup ku ungkap lewat lisan.
tiga puluh hari terasa lama, untuk menahan sakit yg hadir di beranda dada. namun terasa sangat cepat, untuk aku menanam kembali bibit baru, pada rasa yg sudah mati ini. bagaimanalah, batinku mendadak tandus kekeringan. sesekali di hujani air mata dari mendungnya dada.
cinta itu "saling"
musyafa.
purwokerto, 10 maret 2019
atau tersandung batu ketika mengejar layang-layang yg putus tanpa puan??
goresan merah yg menempel pada lutut, atau bercak perih yg terasa di siku dan telapak tangan.
sesekali kena marah dari ibu, sembari memberi komponen-komponen penyembuh. bilasan air, plester,obat merah, kapas dan perban. sangat mujarab menghilangkan luka dalam hitungan hari.
dan kali ini, aku ingin menceritakan sakitku, boleh?
andaikata tidak boleh pun, aku akan tetap menceritakannya.
sakit ku kali ini agak berbeda. memang berawal dari jatuh, namun bukan dari sepeda atau tersungkur karena mengejar layang-layang.
kali ini jatuh yg setinggi langit, jatuh yg sedalam samudra. sakit yg tak berdarah, namun teramat menyiksa.
tak bisa di sembuhkan dengan plester, kompresan es ataupun obat merah. karena kali ini hati ikut andil dan rasa sebagai peran utama.
berawal dari bibit-bibit kepercayaan pernah aku tanam.
kau terus saja berikan pupuk janji, serta di siram dengan air manis. subur sekali kepercayaanku. tumbuh begitu cepat, tak terbayang akan tertamat.
hingga suatu saat, kau begitu keras mematahkannya. merobohkan dengan cepat, dan menyadari kesalahan dengan sangat terlambat.
aku kira aku hanya bermimpi. kala pagi ku dapati riwayat pesan singkat, isinya memang menyayat. jatuh lah aku di kenyataan. mendadak pernafasanku sesak. tak sanggup ku ungkap lewat lisan.
tiga puluh hari terasa lama, untuk menahan sakit yg hadir di beranda dada. namun terasa sangat cepat, untuk aku menanam kembali bibit baru, pada rasa yg sudah mati ini. bagaimanalah, batinku mendadak tandus kekeringan. sesekali di hujani air mata dari mendungnya dada.
cinta itu "saling"
musyafa.
purwokerto, 10 maret 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar