takdir memang tak bisa di terka dan di rencanakan. dan sepertinya, takdir sengaja mempertemukan kita dengan tidak sengaja.
aku dan kamu yg dulunya asing, di pertemukan lewat perkembangan jaman yg semakin mengesankan.
perkenalan yg berawal dari bisunya tulisan, mulai merapatkan hubungan dengan candaan. walaupun tak ada perayaan salam atau sebuah kata sapa, ketika berpapasan, kita tetap saja mengisyaratkan dengan tatapan mata. isyarat yg rumit tanpa kejelasan.
dekat,mendekat dan terus mendekat.
maaf, bila kita akhirnya saling mendekatkan.
maaf, apabila kita saling menyenangkan.
maaf, bila kita saling menenangkan.
dan maaf, jika kita saling menginginkan.
hingga tak ada lagi isyarat, tak ada lagi tatapan singkat. tersisa percakapan ringan yg membuat kita semakin nyaman.
tanpa sadar, tersirat rasa sayang tanpa tersurat. rasa tak ingin kehilangan pun menjangkit. bibit-bibit asmara yg kala itu hampir aku tak percaya pun tumbuh kembali.
mimpi-mimpi untuk bersama terbesit. meski impian itu sangat berat untuk kita capai, kita sepakat untuk saling memberi semangat. dan pada saat kita jatuh, kita bersama memberi kuat.
hingga suatu hari, saat mentari mulai condong ke barat, kita bersamaan saling melambaikan tangan.
jauh, semakin jauh dan semakin jauh. bukan berakhir, namun terhalang suatu ruang dengan julukan "jarak".
hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun.
waktu terus saja menyeretku pada rasa yg tak ku mengerti dan tak mau pergi.
hingga dapat ku pastikan, rasa rindu terselubung dalam relung palung.
tumbuh terus menerus membesar. sampai-sampai, rindu menjelma menjadi sendu. membuat kecemasan tanpa menentu.
sungguh ingin ku bertemu, namun jarak dan waktu tak memberi restu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar